PENGGUNAAN ALAT PERAGA PESAWAT
SEDERHANA
UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR
SISWA
Prihatin
SMP
N 2 Watumalang, Kab Wonosobo
Prihatincantik@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk membantu guru IPA agar
mampu menyiasati kekurangan sarana prasarana laboratorium yang terbatas dengan membuat inovasi alat
peraga pesawat sederhana yang terbuat dari barang bekas. Dengan penggunaan alat
peraga ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data dalam
penelitian ini adalah teknik non tes yang berupa lembar angket dan observasi.
Angket ini dimaksudkan untuk mengetahui data motivasi belajar siswa pada mata
pelajaran IPA Observasi dilakukan dengan
pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran dalam kelas. Hasil dari
observasi penerapan pembelajaran dengan alat peraga ini dimaksudkan untuk
mendukung kesimpulan dari hasil penelitian. Proses pembelajaran yang
menggunakan alat peraga sederhana ini, ternyata membuat siswa menjadi lebih termotivasi
dan aktif dalam belajar. Berdasarkan dari perhitungan skor rata-rata perolehan
tiap aspek yang diamati, diperoleh hasil skor sebanyak 18,4 dari 24 skor
maksimal atau 76,7 % siswa merasa termotivasi dalam belajarnya. Siswa merasa
mempunyai rasa ingin tahu, merasa mampu melakukan sesuatu permasalahan, merasa
senang dalam belajar, dan bersemangat. Pembuatan alat peraga ini sangat mudah
dan tidak perlu keahlian khusus. Bahkan dapat menggunakan barang-barang bekas.
Kata kunci : alat peraga, pesawat sederhana, motivasi
PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan upaya memahami berbagai
fenomena alam secara sistematik. IPA memiliki dimensi sikap ilmiah (scientific attitude), proses ilmiah (scientific proses), dan produk ilmiah (scientific product), berupa pengetahuan.
Karena itu tujuan pembelajaran IPA tidak sekedar mengumpulkan pengetahuan,
tetapi harus melatihkan berbagai keterampilan proses, dan menumbuhkan sikap
ilmiah. Pembelajaran IPA juga harus mampu menumbuhkan kreativitas (creativity) dan memberikan perhatian
pada penerapan IPA dalam kehidupan sehari-hari (application) (Yager,1996; Carin,1997)
Permendiknas
nomor 41 tahun 2007 dan Permendiknas nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses,
menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran pada setiap
satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta
memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Untuk itu
setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses
pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan. Disinilah guru berperan besar di dalam mengimplementasikannya pada tiap proses
pembelajaran.
Tugas
guru dalam kegiatan pembelajaran sebagai motivator dan fasilitator. Tugas
sekolah dan pemerintah sebagai penyedia sarana prasarana yang dibutuhkan dalam
pembelajaran. Tetapi kenyataan yang ada
di sekolah, (1) Tidak banyak sekolah yang memperhatikan sarana prasarana
laboratorium IPA, walaupun sudah mengajukan permohonan perlengkapan sarana
prasarana kepada pemangku kepentingan, ternyata tidak banyak membawa hasil. (2)
Guru mengajar 24 jam dalam seminggu, tentunya tidak mempunyai banyak waktu
untuk dapat memberi pembelajaran dalam laboratorium. Mulai dari persiapan,
pelaksanaan sampai pada kebersihan dan pengembalian peralatan laboratorium ke
tempat semula. (3) SMP tidak mempunyai laboran yang dapat membantu
mempersiapkan perlengkapan praktikum dan membantu membereskan ruang
laboratorium setelah digunakan. (4) Guru kurang mempunyai daya kreativitas
dalam membuat media pembelajaran. Banyak guru IPA yang belum mendapatkan
pelatihan laboratorium. Jika mengikuti pelatihan laboratorium secara mandiri,
biasanya enggan karena harus membayar mahal, dan butuh waktu beberapa kali
pertemuan. Biasanya guru hanya mengandalkan media pembelajaran yang sudah jadi
yang berasal dari droping laboratorium atau membeli. Seperti misalnya pada pembelajaran
kelas VIII semester satu, Kompetensi Dasar 5.4 Melakukan percobaan tentang pesawat sederhana dan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari. Guru hanya memberikan pembelajaran tentang macam-macam
pesawat sederhana secara terpisah. Hal ini menyebabkan pemahaman konsep pesawat
sederhana juga terpisah. Siswa kurang termotivasi untuk belajar IPA, karena
dianggap IPA hanya butuh hafalan saja. Jika siswa hafal konsep-konsep yang
dipelajari, maka kemungkinan besar siswa akan mendapatkan nilai yang baik.
Dari latar belakang
permasalahan, peneliti tertarik untuk mengkaji pengembangan alat peraga
inovatif untuk meningkatkan motivasi
belajar siswa. Dengan alat peraga inovatif, diharapkan kegiatan pembelajaran
lebih melibatkan aktivitas siswa secara fisik. Bahkan diharapkan siswa akan
termotivasi untuk dapat membuat suatu karya yang dapat digunakan di masa yang
akan datang.
Pembelajaran IPA memerlukan media sebagai sarana untuk
membantu dalam menjelaskan suatu konsep. Media dapat berupa alat peraga. Alat
peraga adalah alat yang digunakan untuk
membantu menjelaskan suatu teori yang berkaitan dengan ilmu yang ingin kita
berikan. Dalam pembelajaran, alat peraga sangat penting, agar materi dapat
tersampaikan dengan jelas dan bermakna. Alat peraga biasanya digunakan oleh para
guru untuk menjelaskan suatu teori yang susah dimengerti/dijelaskan dengan
kata-kata.
Jika kita mendengar
kata pesawat, kita membayangkan hal yang berhubungan dengan teknologi tinggi,
padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Pesawat adalah tiap-tiap alat yang
digunakan untuk mempermudah melakukan usaha. Ada pesawat rumit dan ada pesawat
sederhana. Pesawat yang rumit terdiri dari beberapa pesawat sederhana. Pesawat
sederhana adalah alat untuk memudahkan melakukan usaha yang dibuat dari bahan
sederhana dan dirancang dengan sederhana pula. Pesawat sederhana ada 4 jenis,
yaitu (1) Tuas, (2) Katrol, (3) Bidang miring, dan (4) Roda berporos dan roda
bergigi. Menguntungkan atau tidaknya sebuah pesawat sederhana dinyatakan dengan
efisiensi atau keuntungan mekanik pesawat. Keuntungan mekanik pesawat sederhana
adalah angka yang menunjukan
perbandingan antara berat beban (w) dengan gaya/kuasa (F) yang diperlukan. Semakin
besar keuntungan mekanik pesawat, semakin kecil kuasa/gaya yang diperlukan. Dirumuskan dengan
1. Bidang
Miring = beban/kuasa
Ketika
orang akan menaikkan beban berat ke atas
truk, maka orang tersebut dapat menggunakan tiga cara, yaitu dapat mengangkat
langsung, menggunakan tangga maupun dengan bidang miring.
Sumber : Hewitt (2007 : 67)
Cara (a) diangkat langsung
(b) didorong melalui bidang miring
(c) diangkat melalui tangga
Pesawat
sederhana tidak memperkecil usaha :
Usaha
cara (a) Usaha cara (b) Usaha
cara (c)
Usaha
= gaya angkat Usaha = gaya
dorong Usaha =
gaya angkat
W = Fa x h W =
Fb x l W =
(Fc x h)
=
W/F =
l/h = W/F
Jadi,
semakin panjang bidang miring, semakin besar keuntungan mekaniknya berarti semakin kecil kuasa (gaya dorong) yang
diperlukan. Itulah mengapa jalan ke puncak bukit/gunung dibuat berkelok-kelok.
Contoh pemanfaatan bidang miring adalah tangga, sekrup/ulir, baut, baji,
dongkrak mobil mekanik.
2.
Roda
Berporos
Roda berporos mirip dengan katrol.
Prinsip kerjanya memanfaatkan perbedaan jari-jari lingkaran roda yang dihubungkan
tali.
Sumber : Penulis
W = Beban
F = Gaya/Kuasa
r = Jari-jari roda kecil yang terhubung dengan beban
R = Jari-jari roda besar yang terhubung dengan
kuasa
Jadi semakin besar
perbedaan jari-jari beban dan jari-jari kuasa, semakin besar keuntungan
mekaniknya berarti pula kuasa yang diperlukan semakin kecil.
Contoh
penggunaan roda berporos adalah penarik timba pada sumur. Tali timba yang
dililitkan pada batang as
(poros) Batang tersebut dihubungkan dengan lengan engkol. Lengan engkol
yang diputar akan membentuk suatu lingkaran yang panjang jari-jari lingkarannya lebih besar
daripada jari-jari as tersebut. Jika kita akan menarik tali timba ke atas, maka
kita akan mengerahkan gaya kuasa pada roda (memutar engkol). Dengan memutar engkol, maka tali timba akan tergulung
pada batang poros dan ember berisi air akan naik ke atas. Jika kita
memutar engkol dengan arah yang berkebalikan, maka tali timba akan lepas dari
batang poros, dan ember akan turun ke dalam sumur.
3. Gaya gesek
Gaya gesek adalah gaya yang
terjadi apabila dua permukaan benda bersentuhan. dan arahnya berlawanan dengan kecenderungan arah
gerak benda. Gaya ini melawan gerakan dari dua permukaan yang
bersentuhan. Gaya gesek mengubah energi kinetis menjadi panas atau suara. Gaya
gesek kinetis adalah gaya gesek yang bekerja pada permukaan benda yang saling
bersentuhan ketika benda sedang bergerak.
f = mN
di mana
N =
adalah gaya normal pada benda yang ditinjau gaya
geseknya,
f =
adalah gaya gesek.
Contoh: permukaan jalan raya dibuat kasar, tujuannya supaya terjadi
gaya gesek antara ban mobil dan permukaan jalan raya sehingga mobil dapat
bergerak. Jika permukaan
jalan dibuat licin, maka mobil tidak dapat bergerak, karena roda hanya berputar
ditempat. Gaya gesek tidak selalu merugikan bahkan banyak yang menguntungkan.
Untuk mengurangi gaya gesek yang merugikan, manusia mencoba memperkecil atau
mengurangi besarnya gaya gesek tersebut dengan berbagai cara, diantaranya
dengan penggunaan roda.
Motivasi
adalah suatu keadaan dalam diri siswa yang mendorong siswa aktif dalam
mengikuti pembelajaran dan mengarahkan perilaku belajar siswa pada tujuan yang
ingin dicapai. Motivasi belajar ini diukur dengan observasi dan menggunakan
angket motivasi belajar dengan indikator pengukurannya berupa hasrat dan keinginan (ketertarikan terhadap pelajaran, keinginan untuk bertanya),
dorongan (melaksanakan tugas dan merasa membutuhkan ilmu pengetahuan), harapan
dan cita-cita (hasrat mewujudkan cita-cita), penghargaan dalam belajar (senang
belajar dan tidak malas-malasan), semangat (tidak merasa jenuh dalam belajar,
senang mengikuti kegiatan belajar mengajar), dan lingkungan yang kondusif
(lingkungan nyaman untuk belajar dan tidak bising).
METODE
Penelitian
ini menetapkan siswa kelas VIII A semester satu SMP N 2 Watumalang sebanyak 32
siswa yang terdiri dari 14 laki-laki dan 18 perempuan. Teknik yang digunakan untuk mendapatkan data
dalam penelitian ini adalah teknik non tes. Teknik nontes yang digunakan berupa
lembar angket dan observasi. Angket ini dimaksudkan untuk mengetahui data
motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung
terhadap proses pembelajaran dalam kelas. Hasil dari observasi penerapan
pembelajaran dengan alat peraga ini dimaksudkan untuk mendukung kesimpulan dari
hasil penelitian. Dokumentasi digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh
dalam pengamatan/observasi dan juga digunakan sebagai bukti otentik bahwa
peneliti telah benar-benar melaksanakan penelitian. dokumen berupa lembar kerja
siswa, naskah soal, angket motivasi belajar, hasil angket motivasi
belajar, dan foto kegiatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan
dari landasan teori dan pengalaman pembelajaran pada konsep pesawat sederhana,
diperoleh gagasan bagaimana menyampaikan konsep pesawat sederhana kepada siswa
agar siswa paham dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada
kit mekanika dapat digunakan untuk menyusun peraga pesawat sederhana, tetapi
tidak semua sekolah mempunyai kit mekanika tersebut. Untuk menyusun alat peraga
membutuhkan waktu yang lama, karena pada kit mekanika tersebut perlu menyusun
satu persatu dan menyekrupnya.
Pembuatan inovasi alat
peraga pesawat sederhana ini sangat mudah, tanpa harus mempunyai keahlian
khusus (lihat lampiran 1). Jika guru kurang ahli dalam pertukangan, pembuatan alat
peraga ini tidak harus dipaku, cukup dengan dilem menggunakan lem kayu.
Pembuatan alat peraga yang menggunakan
lem kayu membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan yang menggunakan
paku. Hal ini karena kita harus menunggu
agar lem benar-benar kering sebelum digunakan. Kelebihan pembuatan alat peraga
menggunakan lem kayu, lebih kuat, rapi, dan tidak ada resiko pecah atau sobek
pada saat memasang triplek yang tipis. Pembuatan alat peraga yang menggunakan
paku lebih cepat dan dapat langsung digunakan.
Biaya yang digunakan
untuk membuat alat peraga ini dapat dikatakan tidak ada. Karena menggunakan
barang-barang yang sudah tidak dipakai. Kalaupun ada, mungkin biaya untuk
pembuatan, jika dibuat oleh orang lain. Pembuatan alat peraga ini dapat dibuat
dalam ukuran besar untuk meja demonstrasi pada model pembelajaran langsung
(Direct Instruction) dan ukuran kecil untuk meja siswa. Dengan adanya peraga
besar dan kecil, dapat mengurangi tingkat kesalahan yang dibuat siswa dalam
melakukan percobaan. Guru juga dapat menjelaskan mengapa alat peraga dibuat
seperti itu (lihat lampiran 2).
Pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan alat peraga inovatif ini diikuti oleh 32 siswa yang terdiri dari 14
siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan, Pertanyaan pada angket terdiri dari enam
aspek, yaitu (1) Hasrat dan keinginan, (2) Dorongan, (3) Harapan dan cita-cita,
(4) Penghargaan dalam belajar (5) Semangat, dan (6) Lingkungan yang kondusif. Penilaian yang diberikan berupa skor minimal 1 (kurang), skor 2 (cukup), skor 3 (baik), dan skor
maksimal 4 (sangat baik). Berdasarkan angket siswa yang disebar setelah
kegiatan pembelajaran, diperoleh hasil penilaian seperti pada tabel 1.
Tabel
1. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa
No
|
Aspek
|
Indikator
|
Penilai-an
|
1
|
Hasrat dan
keinginan
|
Mempunyai rasa tertarik terhadap pelajaran
|
3,6
|
Mempunyai keinginan yang kuat terhadap
sesama
|
|||
Mempunyai keinginan untuk bertanya
untuk mencari tahu
|
|||
2
|
Dorongan
|
Merasa terdorong untuk
melaksanakan tugas yang diberikan
|
3
|
Merasa membutuhkan ilmu pengetahuan
|
|||
3
|
Harapan dan cita-cita
|
Mempunyai harapan masa depan
|
3
|
Melakukan sesuatu karena untuk
mewujudkan keinginannya
|
|||
4
|
Penghargaan
dalam belajar
|
Peserta didik menjadi senang dalam
belajar
|
3
|
Peserta didik menjadi tidak
bermalas-malasan
|
|||
5
|
Semangat
|
Mengikuti KBM dengan senang
|
3,3
|
Selalu tidak kenal malas
|
|||
Tidak merasa jenuh dengan pelajaran
|
|||
6
|
Lingkungan
yang Kondusif
|
Lingkungan tidak bising
|
2,5
|
Lingkungan yang nyaman untuk belajar
|
|||
Rata-rata
|
3,06
|
||
Berdasarkan
dari perhitungan skor rata-rata perolehan tiap aspek yang diamati, diperoleh
hasil sebanyak 18,4 dari 24 skor maksimal atau 76,7 % siswa merasa termotivasi
dalam belajarnya. Siswa merasa mempunyai rasa ingin tahu, merasa mampu
melakukan sesuatu permasalahan, merasa senang dalam belajar, dan
bersemangat. Sedangkan pada aspek
lingkungan yang kondusif, siswa merasakan lingkungan belajar menjadi relatif
lebih bising. Alasan yang disampaikan siswa, lingkungan kelas menjadi lebih
ramai pada saat melakukan kegiatan, beberapa siswa merasa terganggu dengan
kegiatan dari kelompok lain. Walaupun demikian, siswa tetap merasa nyaman dalam
belajar karena mereka merasa kegiatan pembelajaran dengan alat peraga sederhana
ini menyenangkan. Bahkan pada beberapa
siswa menjadi lebih kreatif dalam belajar. Berdasarkan observasi kegiatan pembelajaran,
guru merasa lebih mudah menyampaikan pembelajaran dengan menggunakan alat
peraga dibanding dengan kegiatan pembelajaran dengan diskusi atau dengan
ceramah.
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan
dari hasil penelitian dan pembahasan
dapat disimpulkan :
1.
Pembuatan alat peraga pesawat sederhana sangat mudah, tanpa keahlian khusus,
biaya pembuatan terjangkau karena dapat menggunakan barang bekas.
2.
Siswa
lebih termotivasi dalam belajar.
B.
Saran
1. Penelitian
ini diperuntukkan semua guru IPA baik yang berlatar belakang Fisika, Biologi
maupun Kimia yang mengajar IPA Terpadu. Terutama bagi guru yang sekolahnya
tidak mempunyai/mendapat droping kit mekanika, atau yang kurang mampu merakit
peralatan dari kit mekanika.
2. Kepada
Pemangku kepentingan, diharapkan lebih banyak lagi guru-guru IPA yang diberi
pelatihan laboratorium, dengan biaya yang murah, dan lebih banyak dilatih pada
pembuatan inovasi alat peraga IPA.
DAFTAR PUSTAKA
Baedhowi, Masruh. (2009) Pemanfaatan Roda
Berporos pada Bidang Miring sebagai Alat Bantu Proses Pengangkutan Pasir. Makalah ISPO 2009.
Bob Foster. (2004). Eksplorasi Sains Fisika SMP Kelas VII. Jakarta. Erlangga hal 184 – 188
Rinie Pratiwi. (2008). IPA Kelas VIII edisi 4. Jakarta Pusat Perbukuan
Depdiknas.
Sugiyanto, Putut Marwoto. (2006). Pedoman Penulisan Artikel Ilmiah,
Semarang. Universitas Negeri Semarang Press.
Tim Discovery. (2013). Buku
Pengayaan Materi Discovery untuk SMP Tahun 2013-2014. Wonosobo. Wahyu Mukti
Grafika.
Sabar. (2013) Suara Guru, Memanfaatkan Barang Bekas untuk Media
Pembelajaran IPA. Suara Merdeka, 12 Oktober 2013. hlm 19.
http://gurumuda.net/gaya-gesek-kinetis.htm diakses minggu 20 Oktober 2013 jam 0.04
Lampiran 1
PROSES
PEMBUATAN ALAT PERAGA PESAWAT SEDERHANA
Alat
dan bahan;
No
|
Alat
dan Bahan
|
Ukuran
|
Jumlah
|
1.
|
Papan landasan
|
10 x 30 cm,
10 x 60 cm,
10 x 90 cm
|
1 bh
1 bh
1 bh
|
2.
|
Balok kayu
|
2 x 2 x 40 cm
|
4 bh
|
3.
|
Triplek atau papan tipis
|
10 x 20 cm
|
2 bh
|
4.
|
Kayu silinder atau sumpit
|
Diameter 0,5 cm x 20 cm
|
1 bh
|
5.
|
Mainan yoyo terbuat dari kayu
|
Diameter 5 cm
|
1 bh
|
6.
|
Benang kasur
|
-
|
25 cm
|
7.
|
Papan tipis
|
10 x 10 cm
|
2 bh
|
8.
|
Paku kecil
|
2 cm
|
|
9.
|
Beban, misalnya baterai besar
|
-
|
2 bh
|
10.
|
Mobil-mobilan / skateboard mainan
|
3 x 5 cm
|
1 bh
|
11.
|
Selang atau sedotan
|
Diameter 0,5 cm
|
1 bh
|
12.
|
Karet gelang
|
-
|
2 bh
|
Cara Kerja :
Gambar Barang bekas
yang akan dibuat alat peraga
Gambar Alat Peraga Inovatif Pesawat Sederhana
APLIKASI PRAKTIS UNTUK PEMBELAJARAN
1. Buatlah
rangkaian seperti rak dua tingkat seperti pada gambar. Tinggi relatif bebas,
yang penting jarak antara lantai ke tingkat satu dan dari tingkat satu ke
tingkat dua mempunyai jarak yang sama, misalnya 20 cm.
2. Rak
diletakkan pada papan yang tebal dan kuat.
3. Buatlah
landasan bidang miring, tapi jangan dibuat permanen, agar mudah diganti dengan
landasan yang berbeda ukuran panjangnya.
4. Buatlah
roda berporos. Dari bahan yoyo kayu yang telah dibelah menjadi dua dan
dihubungkan dengan sumpit atau kayu berbentuk silinder. Pasanglah papan tipis
yang diberi lubang pada rak bagian atas. Masukkan sumpit di antara kedua lubang
(lihat gambar) pastikan sumpit dapat bergerak bebas dalam lubang tersebut.
Pasang selang kecil di antara yoyo dengan papan dan pasang karet gelang pada
ujung sumpit yang lain pada sisi luar papan agar gerakan yoyo menjadi stabil.
Pasang tali dari benang kasur pada sumpit.
5. Buatlah
beban yang akan dipakai untuk percobaan, misalnya dua baterai besar yang diikat
menjadi satu, atau beban yang lain. Siapkan juga mobil-mobilan atau skateboard
mainan yang diberi pengait untuk persiapan percobaan. Bagian tengah bidang
landasan dapat juga dipasang benang kasur sepanjang landasan untuk rel agar
jalannya mobil-mobilan tidak berbelok-belok. Pemasangan rel dipasang setelah
siswa melakukan percobaan dengan mobil-mobilan.
6. Pasang
roda yang lebih kecil di bagian bawah roda yoyo. Roda kecil dipasang sejajar
dengan roda yoyo. Hubungkan roda kecil dan roda yoyo dengan karet gelang. Jika
ada, siapkan dinamo mainan. Roda kecil ini dapat juga digunakan untuk
menghubungkan roda berporos dengan dinamo.
Lampiran
2
Penjelasan
pada pembuatan alat peraga pesawat sederhana untuk digunakan pada proses
pembelajaran :
1. Rak
dibuat dua tingkat, dapat lebih dari 2 tingkat. Tinggi antar rak menggunakan angka bulat yang mudah untuk
perhitungan, misalnya 20 cm. Hal ini agar siswa mudah dalam mencari keuntungan
mekaniknya. Biasanya siswa agak malas menghitung yang hasilnya angka pecahan.
2. Rak
diletakkan pada papan yang tebal dan kuat, agar pada saat siswa melakukan
percobaan rak tidak bergeser, atau bergoyang. Hal ini untuk mengantisipasi agar
alat peraga tidak mudah rusak saat digunakan. Dapat juga alas alat peraga di
klem sementara dengan meja siswa.
3. Landasan
bidang miring dibuat tidak permanen, dipasang dengan lakban atau dapat juga
diberi pengait pada ujung landasan dan tepi rak. Hal ini untuk memudahkan
penggantian landasan yang berbeda ukurannya. Landasan ini juga dapat digunakan
pada ketinggian rak yang berbeda. Siswa menghitung keuntungan mekanis bidang
miring berdasarkan tinggi bidang miring dan panjang landasan. Adakah
perbedaannya?
4. Roda
berporos terbuat dari sumpit kayu yang dihubungkan dengan roda yoyo kayu.
Rangkaian ini menjelaskan jenis pesawat sederhana yang lain. Siswa menjadi
tahu, bahwa dari beberapa pesawat sederhana dapat dirangkai menjadi satu
peralatan. Peralatan ini dapat membantu menjelaskan bagaimana mengubah arah
gaya.
5. Beban
untuk percobaan diusahakan berbentuk balok atau sejenisnya dan diberi pengait
agar dapat digantungkan pada neraca pegas. Siswa disuruh merasakan pada saat
menarik beban melalui landasan bidang miring. Siswa melihat angka pada neraca
pegas, berapa gaya yang digunakan untuk menarik beban tersebut. Dari berbagai panjang landasan, adakah
perbedaan besarnya gaya yang diperlukan?
Siswa memasukkan data hasil pengukuran ke dalam tabel pengamatan. Dan
menghitung keuntungan mekanisnya dengan menggunakan angka-angka hasil
pengukuran.
6. Mobil-mobilan
atau skateboard digunakan untuk menjelaskan gaya gesek. Siswa disuruh merasakan
gerakan mobil-mobilan yang diberi beban pada saat melintasi landasan, dan
memperhatikan arah gerakan mobil-mobilan. Mobil-mobilan bergerak lurus
sepanjang landasan atau bergerak ke kanan dan ke kiri pada bidang landasan?
Adakah perbedaan gesekan antara beban yang ditarik menyentuh landasan dengan
beban yang ditarik dengan menggunakan mobil-mobilan?
Bagian tengah bidang
landasan dipasang benang kasur sepanjang landasan untuk rel. Roda mobil-mobilan
diletakkan diantara rel. Hal ini untuk menjelaskan kestabilan arah
mobil-mobilan. Jika mobil-mobilan melaju dengan arah yang tetap, maka beban
yang dibawa tidak goyang atau tidak tumpah.
7. Roda
yang lebih kecil dipasang di bagian bawah roda yoyo. Hal ini untuk menahan
gerakan roda berporos. Jika guru perlu menjelaskan proses yang terjadi, maka
beban dapat berhenti di tengah landasan dan tidak meluncur ke bawah. Roda kecil
ini dapat juga digunakan untuk menghubungkan roda berporos dengan dinamo, bila
kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan aplikasi penggunaan teknologi
sederhana ini di masyarakat.
8. Sebagai
pengayaan, guru dapat menjelaskan penggunaan alat peraga ini di masyarakat.
Misalnya sistem alat pengangkutan pasir dari sungai Serayu ke tepi jalan atau
pada penggunaan yang lain.





EmoticonEmoticon